Perdagangan Berjangka Komoditi

Perdagangan Berjangka Komoditi

Oleh : Kwik Kian Gie (Ekonom Senior, Mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas)

  Perdagangan berjangka komoditi tidak dapat berfungsi dengan baik sebelum perdagangan tunainya terorganisir. Walaupun dalam perdagangan berjangka bukan maksudnya menyerahterimakan barang secara fisik, tetapi penyerahan barang pada tanggal jatuh waktunya tidaklah dilarang. Sekitar  lima persen dari keseluruhan transaksi berjangka diselesaikan dengan penyerahan barang. Dengan demikian, pembentukan harga dipasar berjangka tidak dalam kondisi vakum, melainkan ada hubungannya dengan pembentukan harga di pasar tunai (spot).

  Menurut catatan sejarah, awal dari lahirnya commodity futures trading (CFT) adalah munculnya pusat-pusat perdagangan komoditi di abad ke-12 di Venezia, Florence, Genoa, Pisa dan Milan (Italia). Di bagian antara Eropa, pada waktu yang bersamaan muncul di Belanda dan Belgia. Selanjutnya, di tahun 1114 penguasa daerah Champagne (Perancis) sudah menyelenggarakan pameran dagang yang pertama.  Lambat laun tumbuh bursa-bursa yang tertata rapi. Yang pertama muncul adalah di London di tahun 1570 dengan nama The Royal Excange.

  Perdagangan berjangka komoditi mulai berkembang di Jepang pada tahun 1600-an. Didaerah kekaisaran Shogun Tokugawa, pada tahun 1730 muncul perdagangan berjangka komoditi yang disebut cho-ai-mai-kaisho, yang berarti “perdagangan beras di buku”. Jadi hanya di buku saja,tidak dengan maksud untuk menyerah terimakan barangnya secara fisik. Ketentuan-ketentuannya sudah mirip kontrak modern sekarang.

  Kontrak modern dari perdagangan berjangka komoditi yang pertama lahir di Chicago Board of Trade pada tanggal 13 maret 1851 dengan transaksi 3.000 bushel jagung dengan tanggal “penyerahan” di bulan Juni 1851.

   Sekarang di tahun 1997, tanpa mempunyai bursa komoditi spot yang terorganisir dan tertata rapi, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia sedang membahas rancangan Undang-undang tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.

  Seperti kita ketahui, masyarakat Indonesia pernah diramaikan dengan perdagangan berjangka komoditi atau yang lebih dikenal dengan Commodity Futures Trading (CFT). Karena Indonesia masih belum mempunyai Bursa Komoditi, apalagi Bursa Perdagangan Berjangka Komoditi, maka yang dijadikan patokan harga-harga untuk berdagang, antara lain yang besar di Chicago. Oleh pemerintah, praktek yang belum ada dasar hukumnya itu dianggap sebagai judi atau lotre buntut. Karena itulah dilarang. Perusahaan yang melayani perdagangan ini bagi para nasabahnya ditutup, dan kalau membandel akan diambil tindakan. Perdagangan CFT pun berhenti.

  Sekarang kita akan mempunyai undang-undang untuk perdagangan berjangka komoditi. Undang-undang ini tentunya akan dijadikan landasan untuk membentuk bursa perdagangan berjangka komoditi. Kalau sudah ada Undang-undangnya apakah lantas sifat spekulasi menjadi hilang? Tidak sama sekali, tetapi paling tidak bisa ditegakkan tertib hukum, yakni  perusahaan harus mempunyai izin usaha,yang dikaitkan dengan berbagai persyaratan.

Undang-undang dengan sendirinya juga memberikan landasan untuk pembetukan lembaga-lembaga yang melengkapi bursa tersebut,seperti lembaga kliring,badan pengawasnya,yang didalam rancangan undang-undang disebut Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi(Bappepti). Walaupun pernah ada perdagangan CFT,masyarakat kita,terutama bagian dari dari masyarakat yang melakukan perdagangan komodiiti dan barang-barang yang didasarkan atas komoditi yang bersangkutan,tidak banyak mengetahui tentang seluk beluk perdagangan berjangka komoditi.

Andaikan bahwa saya pedagang kopi. Saya membeli kopo dari para petani waktu panen. Saya menerima kopi dan saya bayar harganya pada saat yang sama. Ini namanya perdagangan tunai atau perdagangan spot. Saya juga dapat membeli kopi sekarang,tetapi membayarnya kemudian. Atau sayadapat melakukan ijon,yaitu membayar kopi sekarang yang masih ada di lading. Semuanya termasuk perdagangan spot.

Sementara itu,dalam hasil bumi dan terutama dalam perdagangan internasional,yang lazim bukanlah perdagangan spot. Alasannya,bahwa barang yang sudah dikapalkan menuju eropa misalnya,begitu diketahui barang yang sudah ada diatas kapal,para peminat dapat dengan sengaja menunggu sampai barang tiba.kalau barang sudah tiba dan belum dijual,pemilik barang dikenakan biaya selama penyimpanan didalam kapal yang sudah berlabuh(demmurage). Atau kalau sudah diturunkan dari kapal,pemilik barang dikenakan biaya penyimpanan digudang yang sangat mahal.

Kebiasaan perdagangan internasional komoditi,bahwa kita melakukannya dengan menandatangani kontrak yang menentukan harga,kualitas,kuantitas,dan bulan penyerahan. Dengan demikian,maka calon pembeli tidak dapat “menunggu” sampai pemilik barang kelabakan diancam membayar denda selama barang didalam kapal yang sudah berlabuh,sudah diturunkan dari kapal. Walaupun berjangka,transaksi ini bermaksud menyerahterimakan barangnya secara fisik.

Ada perdagangan yang sama sekali tidak dimaksud untuk melakukan serah terima barang. Misalnya,orang membeli kopi dengan “waktu penyerahan” pada tanggal 24 okteber 1997. Ketentuan-ketentuan lain dari kontrak dagang seperti harga,jumlah,harga satuan dan sebagainya dicantumkan dalam kontrak. Tetapi bukan maksud pembeli menerima kopi yang dibeli pada tanggal 24 oktober mendatang. Dia akan melakukan penjualan sebelum tanggal 24 oktober 1997,sehingga posisinya yang “mempunyai stok” atau “long” dikompensasi dengan menjual yang sifatnya “melikuidasi stok”

Karena harga komoditi berfluktuasi,harga beli bisa lebih besar,sama atau lebih kecil daripada harga jual. Maka orang yang bersangkutan bisa merugi,impas,atau membuat laba,tergantung kearah mana harga akan bergerak. Perdagangan yang demikian ini, yaitu perdagangan komoditi yang tidak pernah mau menyerahkan atau menerima barang dagangannya secara fisik,dinamakan perdagangan berjangka. Pembeli akan selalu menjual lagi sebelum tanggal penyerahan barangnya. Demikian juaga penjual yang tidak punya barang,akan melakukan pembelian sebelum tanggal penyerahan barangnya. Sarana yang demikian inilah yang akan dibentuk oleh pemerintah atas landasan Undang-undang yang rancangannya sekarang sedang dibahas oleh DPR.

Sekarang akan kita bahas apakah sarana yang demikian memenuhi fungsi ekonomi yang berguna? Ya. Gambarannya adalah sebagai berikut: Andaikan saya adalah pabrikan pengolahan dari biji kopi mentah sampai menjadi kopi yang siap diminum atau kopi instan,maka saya akan menjual kopi instan dengan harga yang untuk jangka waktu lama konstan. Saya bukan sudah menandatangani kontrak jangka panjang untuk menjual kopi instan dengan harga yang ditentukan sekarang. Harga kopi instan ini tentunya antara lain ditentukan oleh berapa harga biji kopi mentah saya.

Jadi antara lain harga jual kopi instan dan harga beli biji kopi mentah ada hubungan yang eksak. Saya sudah mengikat diri untuk menjual kopi instan dengan harga yang ditentukan atas harga kopi mentah sekarang. Kopi mentahnya belum saya miliki. Maka untuk memenuhi kewajiban menjual kopi instan dengan harga yang sudah ditentukan sekartang itu,saya dalam perjalanan waktu harus melakukan pembelian bahan mentahnya,yaitu biji kopi mentah. Pembelian ini sayalakukan dalam perdagangan spot. Bagaimana kalau harga biji kopi mentahnya naik? Saya akan merugi atau keuntungan yang saya kalkulasikan akan lenyap. Untuk menghindari risiko ini,saya sekaligus melakukan transaksi dalam bursa perdagangan berjangka. Karena saya menjual kopi instan,saya melakukan pembelian biji kopi mentah dalam pasar berjangka. Sepertyi kita ketahui,dalam pasar ini bukan maksud saya untuk benar-benar menerima kopinya secara fisik.Sebelum jatuh waktunya,pembelian saya akan saya kompensasi dengan penjual. Jadi,kalau harga kopi naik,saya memang akan merugi dalam pasar kopi spot,karena kopi instan sudah saya jual dengan harga tertentu,sedangkan harga biji kopi mentahnya meningkat.

Tetapi di pasar berjangka saya akan beruntung, karena saya melakukan pembelian yang harganya meningkat. Dengan demikian, saya tidak akan terkena dampak fluktuasi bahan mentah. Jadi, trasaksi dasar pasar dibarengi dengan perdagangan bahan mentahnya dalam pasar berjangka. Maka transaksi dalam pasar berjangka harus sebaliknya dari transaksi dalam pasar spot.

Dalam pasar spot, saya menjual kopi instan yang biji kopinya belum saya miliki. Saya akan membeli biji kopi mentahnya dalam perjalanan waktu, sambil berproduksi. Ini mengandung resiko harganya akan naik. Sedangkan dalam pasar berjangka saya membeli biji kopi mentah, yang sebelum tanggal penyerahan akan saya jual lagi. Kalau harga meningkat, saya akan memperoleh laba di pasar berjangka, dan labanya ini mengkompensasi kerugian saya dalam pasar spot.

Jadi perdagangan berjangka mempunyai fungsi “memagari” pabrikan kopi instan dari gejolak harga bahan mentahnya. Hal ini dikenal dengan sebutan hedging, atau pemagaran.

Apakah dengan demikian, bagi para spekulan professional bursa berjangka komoditi adalah kasino? Mirip, tetapi mempunyai fungsi ekonomi. Tepatnya, kalau kasino tidak mempunyai fungsi ekonomi, sementara bursa berjangka komoditi memenuhi fungsi ekonomi, dalam bentuk sarana hedging industriawan dan pedagang besar komoditi yang diperdagangkan.

Pertanyaan berikutnya, apakah harga di pasar spot selalu berjalan sejajar dengan di pasar berjangka? Kalaupun sejajar, apakah naik dan turunnya harga sama? Tidak juga. Maka hedging tidak bisa 100 persen. Pada umumnya, bursa berjangka komoditi memang memberikan sarana hedging, hanya saja tidak sempurna 100 persen.